Senin, 23 November 2015

Kebijakan Ekonomi Pemerintah Periode Akhir November | Yuan Masuk Keranjang Mata Uang IMF



Beijng | Jurnal Asia
Dana Moneter Internasional (IMF) mengisyaratkan akan memasukan yuan ke dalam keranjang mata uang internasional, akhir bulan ini. Tiongkok pun menyambut gembira. Ketua IMF Christine Lagarde, MInggu (15/11) mengatakan yuan memenuhi persyaratan menjadi mata uang yang da­pat digunakan secara bebas. Lagarde menjamin yuan akan masuk special drawing rights (SDR) ketika dewan eksekutif IMF bertemu pada 30 November. Keputusan ini akan menjadi tonggak penting bagi China se­bagai lokomotif ekonomi global.
Saat ini, keranjang SDR terdiri dari dolar AS, euro, poundsterling, dan yen. Jika yuanjuga dikenal sebagai renminbi — masuk keranjang SDR, mata uang China memperoleh status mata uang cadangan devisa di banyak negara.
Bank Sentral China me­nga­takan masuknya yuan ke SDR akan memberi manfaat bagi perekonomian China dan dunia. “China berpikir masuknya yuan ke SDR akan meningkatkan sistem moneter internasional,” demikian pernyataan Bank Sen­tral China.
China adalah perekonomian terbesar kedua di dunia, dengan mata uang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Agustus lalu, devaluasi yuan menyebabkan kekacauan, yang membuat Barat menuduh Beijing melancarkan perang mata uang melalui intervensi pasar secara langsung. Washington, terutama Kong­res AS, mungkin pihak yang paling tidak senang dengan masuknya yuan ke SDR karena akan menjadi tantangan serius terhadap dolar
- See more at: http://www.jurnalasia.com/2015/11/16/periode-akhir-november-yuan-masuk-keranjang-mata-uang-imf/#sthash.RQEkaxZo.dpuf

Kebijakan Ekonomi Pemerintah Terkait Kenaikan Upah Pekerja



           
            Langkah pemerintah mengeluarkan kebijakan ekonomi terkait pengaturan upah buruh dianggap tepat oleh pengusaha di Sumatera Utara (Sumut). Hal tersebut dinilai dapat menghindari dan menghilangkan polemik-polemik yang setiap tahun terjadi terkait dengan pembahasan Upah Minimum Provinsi (UMP) ataupun Upah Minimum Kabupaten Kota (UMK).
Sekretaris Asosiasi Pe­ng­usaha Indonesia (Apindo) Su­mut, Laksamana Adiyaksa me­­ngatakan, peraturan pe­me­rintah memberikan ke­jelasan bagi dunia usaha. Mengingat, dalam kebijakan tersebut mem­per­timbangkan dua sektor yakni, acuan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
“Saya kira ini keputusan sudah baik, dimana telah mem­pertimbangkan dua sisi. Di satu sisi mempertimbangkan per­tumbuhan ekonomi dan per­sentasenya yang me­nun­jukkan kemampuan dunia usaha mem­ba­yar. Jika pertumbuhan ekono­mi bagus, berarti persentasi dunia usaha lebih maju begitu pula sebaliknya,” katanya kepada Jurnal Asia, Senin (19/10).
Di sisi lainnya, katanya, m­e­ngacu kepada inflasi atau de­ngan kata lain persentase daya beli. Dengan iniflasi yang tinggi maka daya beli masyarakat tinggi sehingga persentase yang dipakai tinggi dan begitu pula sebaliknya.
“Ada jaminan kepastian dan transfaransi di sini. Baik pe­ngu­saha ataupun buruh ti­dak dihadapkan pada situasi uang membuat keduanya saling ber­kon­flik khususnya mengenai upah,” ujarnya.
Sementara, pengamat eko­nomi Sumut, Gunawan Ben­jamin menilai, rumusan pe­ngu­pahan baru yang dike­luarkan pemerintah sudah sangat men­jamin kepastian kenaikan upah di tahun-tahun mendatang. Berdasarkan acuan rumusan tersebut, bahkan kepastian kenaikan upah lebih besar diban­ingkan dengan hitung-hitungan sederhana Break Event Point (BEP).
Artinya jika inflasi naik, maka penurunan daya beli akan terjadi se­besar inflasi tersebut. Sehing­ga kenaikan upah sebesar inflasi tersebut akan mempertahankan daya beli para buruh, sekalipun tidak memperbaiki daya beli itu sendiri.
“Namun kenakan inflasi se­bagai acuan kenaikan upah saya pikir merupakan kenaikan ideal, meskipun tidak menjamin bahwa kenaikan upah tersebut akan memperbaiki daya beli masyarakat. Yang jadi per­soa­lannya adalah, bagaimana dengan gaji buruh pada saat ini. Upah yang dinilai belum sesuai dengan KHL (kebutuhan hidup layak) versi buruh tentunya yang masih menjadi tuntutan para kaum buruh. Belum lagi jika ada wilayah yang upahnya masih lebih rendah meskipun dibandingkan dengan versi KHL pemerintah. Ini tentunya per­lu diselesaikan, se­baiknya Pe­merintah, Pe­ngu­saha dan para buruh ber­dialog agar ru­musan kenaikan upah yang baru bisa segera dilaksanakan,” tandasnya.
Menurutnya, kepastian me­ngenai kenaikan upah akan memberikan kepastian bagi industri kita. Akan tetapi ada keemahan dalam sistem pe­ngu­pahan seperti itu. Karena pada dasarnya pertumbuhan ekonomi dan laju tekanan inflasi berbeda di setiap wilayah. Harga jual barang di riau tentunya rata-rata lebih mahal dibandingkan dengan Sumut atau wilayah Jawa Tengah.
Namun acuan perhitungan KHL tersebut jika merunut kepa­da laju tekanan inflasi nasio­nal dan pertumbuhan ekonomi nasional, maka kesenjangan antara daerah akan tercipta. Tidak akan begitu terasa mmang kalau dihitung berdasarkan 1 tahunan. Namun akan terasa jika diakumulasi lebih dari 3 tahun.
Suatu daerah yang laju in­flasinya rendah, dan per­tum­buhan ekonominya juga rendah dibandingkan dengan rata-rata daerah lain atau nasional. Maka pengupahan tersebut akan menguntungkan wi­la­yah tersebut. Artinya gaji naik tinggi, namun harga ba­rang cukup stabil. Dan ten­tunya berbeda dengan dae­rah yang inflasinya tinggi dan per­tum­bu­han ekonominya juga tinggi.
Pemerintah Harus Konsisten
Sementara itu, pemerintah perlu menerapkan konsistensi terhadap berbagai kebijakan ekonomi yang dikeluarkan agar membawa pengaruh terhadap fundamen perekonomian na­sional.
Ketua Bomisi B Bidang Pere­ko­no­mian DPRD Sumatera Utara Donald Lumbanbatu di Medan, Senin (19/10), mengapresiasi atas kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Presiden Joko Wi­do­do.
Kebijakan ekonomi tersebut mulai membawa pengaruh yang positif, di antarnya penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.Namun penguatan nilai tukar rupiah tersebut bukan secara fundamental, melainkan masih insidentil yang diawali adanya kebijakan ekonomi itu. “Masih insidentil karena paket kebijakan ekonomi 1 dan 2. Mungkin yang ke-4 mingu ini,” kata politisi Partai Gerindra itu.
Menurut dia, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut diperkirakan bukan karena faktor politik karena kondisi keamanan masih bagus sejak lama. Jika kebijakan eko­nomi yang dikeluarkan Pre­siden Joko Widodo tersebut dilakukan secara konsisten, diharapkan dapat memperbaiki fundamental ekonomi. “Diharapkan itu bisa dilanjutkan terus. Jadi, perlu konsistensi kebijakan,” kata Donald.
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (16/10) menguat sebesar 14,68 poin akibat nilai tukar rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar AS. (netty/ant)
- See more at: http://www.jurnalasia.com/2015/10/20/terkait-kenaikan-upah-pekerja-apindo-sumut-kebijakan-ekonomi-pemerintah-sudah-tepat/#sthash.l93Gnm8m.dpuf

Selasa, 13 Oktober 2015

FUNGSI STRATEGI SDM SEBAGAI KEUNGGULAN KOMPETITIF PERUSAHAAN JUDUL : SDM UNTUK MENGHADAPI GLOBALISASI



TOPIK            : FUNGSI STRATEGI SDM SEBAGAI KEUNGGULAN KOMPETITIF                                                  PERUSAHAAN
JUDUL           : SDM UNTUK MENGHADAPI GLOBALISASI


SDM UNTUK MENGHADAPI GLOBALISASI


            Perubahan lingkungan bisnis demikian kuat pengaruhnya terhadap organisasi. Setiap perubahan yang terjadi selalu akan membawa dampak bagi setiap aspek organisasi seperti : nilai tambah hasil,struktur kompleks,span of control,manajemen,kelompok kerja,susunan pekerjaan,proses aktivitas dan bentuk komunikasi atau pendelegasian wewenang. Berbagai pengaruh perubahan yang terjadi menuntut organisasi untuk membuka diri terhadap tuntutan perubahan dan berupaya menyusun strategi dan kebijakan yang selaras dengan perubahan lingkungan bisnis dan akan bergantung pada kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Artinya suatu organisasi mampu menyusun strategi dan kebijakan yang ampuh untuk mengatasi setiap perubahan yang terjadi. Keberhasilan penyusunan kebijakan dan strategi organisasi akan didukung lebih banyak fungsi manajerial yang ada. Salah satu bidang fungsional strategi yang menjadi perhatian adalah Manajemen Sumber Daya Manusia.

            Manajemen SDM merupakan bidang strategis dari organisasi. MSDM harus dipandang sebagai perluasan dari pandangan tradisional untuk mengelola orang secara efektif dan untuk itu membutuhkan pengetahuan tentang prilaku manusia dan kemampuan untuk mengelolanya. Oleh sebab itu wajarlah apabila penyusunan strategi SDM harus relevan terhadap penyusunan strategi bisnis.Pembahasan dimulai dengan menekankan pada perubahan lingkungan bisnis dramatis yang memiliki pengaruh terhadap perubahan peran SDM. Untuk mendukung perubahan tersebut organisasi perlu melakukan Reposiotioning baik dalam hal perilaku dan kompetensi SDM sebagai bagian dari Reposiotioning peran SDM untuk meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

            Perubahan lingkungan bisnis akan membawa dampak perubahan pada strategi bisnis. Sebagaimana telah diketahui perubahan strategi bisnis akan semakin mengarahkan manajer untuk memperjelas ke arah mana visi dan misi bidang SDM akan dibawa. Dalam pengertian bahwa SDM merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari organisasi. Karena perubahan ini menyangkut banyak aspek dan tuntutan yang harus dicapai maka perlu dilakukan pengembangan kualitas SDM. Pengembangan kualitas SDM biasanya dilakukan melalui kegiatan investasi SDM maka perlu diketahui bahwa dengan adanya investasi SDM maka pola strategi SDM akan berubah dan menuntut perubahan tipe kompetensi pada tipe tugas berbeda yang akan berdampak pada perubahan peran SDM.Terkait dengan perubahan peran SDM maka kita perlu melihat peran SDM pada paradigma tradisional.

            Berdasarkan pendekatan tersebut manajer SDM diharapkan mampu mengkoordinasikan semua elemen organisasional untuk dikelola secara bersama dengan harapan dapat meningkatkan kinerja organisasi yang bersangkutan. Masalah proses Repositioning menyangkut perubahan peran SDM yang menuntut berbagai macam peningkatan kualitas dalam diri karyawan. Sehingga mau tidak mau SDM harus dikembangkan dulu sebelum dinyatakan layak untuk menjalankan peran SDM strategis.Menyimak uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa organsisasi yang ingin survive dalam lingkungan persaingan yang ketat harus melakukan Repositioning peran SDM dengan cara melatih (investasi) dan melatih kembali (reinvestasi) SDM baik dalam aspek perilaku maupun kompetensi SDM.

            Implikasi globalisasi pada manajemen SDM tampaknya masih kurang diperhatikan secara proporsional karena tolok ukur keefektifannya kurang memiliki keterkaitan langsung dengan strategi bisnis. Peranan manusia dalam menunjang pengimplentasian suatu strategi perusahaan, SBU (Strategic Business Unit) maupun fungsional sangat penting dan menentukan. Banyak perusahaan yang  telah melakukan program – program pelatihan dan pengembangan SDM sebagai tanggapan dalam mengantisipasi suatu  perubahan lingkungan yang sangat cepat. Yang perlu dipertanyakan adalah pertanyaan ini penting sebagai dasar mengevaluasi keefektifan program pengembangan secara keseluruhan. Alat ukur keefektifan organisasi dan aktivitas SDM perlu dirancang secara profesional. Capital intellectual dan pengukurannya akhir – akhir ini sering dipertimbangkan sebagai alternatif yang menjanjikan kendati pengimplentasiannya tidak semudah yang diperkirakan.

            Berbagai isu antara lain hak paten, royalty, ecolabelling, etika berbisnis, upah minimum pekerja, tuntutan pelanggan, lingkungan bebas polusi ikut mewarnai dunia usaha di abad ini. Selain itu, flexibility dancontinuous learning merupakan karakteristik yang sangat penting dan yang sudah dipertimbangkan oleh pelaku bisnis untuk menjawab tantangan perdagangan bebas yang semakin kompetitif. Untuk memenangkan persaingan di pasar global, perusahaan harus berupaya dalam layanan yang luar biasa pada pelanggan, mengembangkan kemampuan – kemampuan baru, produk baru yang inovatif, komitmen karyawan/wati, pengelolaan perusahaan melalui kerja sama kelompok. Perusahaan dituntut berpikir global (think globally dan act locally) serta mempunyai visi dan misi yang jauh berwawasan ke depan.
            Dalam menentukan strategi SDM, faktor – faktor eksternal perlu dipertimbangkan mengacu pada future trends and needs, demand and supply, peraturan pemerintah, kebutuhan manusia pada umumnya dan karyawan pada khususnya, potensi pesaing, perubahan sosial, demografis, budaya maupun nilai – nilai, dan teknologi.Perusahaan harus memilih strategi bisnis yang tepat. Yang terpenting dalam meraih keuntungan  kompetitif adalah melalui pengelolaan SDM secara efektif. Kemitraan dengan perusahaan lain merupakan karakteristik untuk meningkatkan produktivitas dan prestasi perusahaan. Sebab itu network structure dan budaya perusahaan yang mengacu pada inovasi, kreativitas dan belajar berkesinambungan (continuos learning) merupakan pilihan yang tepat bagi perusahaan – perusahaan yang ingin survive dan berkembang.

            Dengan dimulainya perdagangan bebas, pemerintah dan pelaku bisnis harus siap menghadapinya dengan mempersiapkan strategi bisnis dan khususnya SDM agar kita mampu bersaing dalam skala dunia.Di tingkat makro, dalam menghadapi tantangan globalisasi perusahaan atau pelaku bisnis, pemerintah dan akademis perlu mengembangkan tenaga kerja nasional melalui program-program terpadu dan nyata. Seperti yang sudah di jelaskan tentang calon-calon SDM yang dianggap berkualitas. Dengan berjalannya dunia globalisasi kita harus siap untuk mengahadapi dunia internasional dan memperbaiki mutu SDM di Negara kita sendiri agar tidak tertinggal jauh oleh pesaing-pesaing.



PENGARUH GLOBALISASI EKONOMI TERHADAP DUNIA BINIS JUDUL: PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP NILAI NASIONALISME DIKALANGAN MUDA



TOPIK            : PENGARUH GLOBALISASI EKONOMI TERHADAP DUNIA BINIS
JUDUL           : PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP NILAI NASIONALISME                                                     DIKALANGAN MUDA


PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP NILAI NASIONALISME
DIKALANGAN MUDA


            Berbagai tantangan kehidupan global kini dihadapi oleh generasi muda dalam
menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Globalisasi banyak mengubah cara
hidup masyarakat di dunia, termasuk Indonesia, dalam berbagai bidang. Dampaknya
terasa di segala sisi, di mana dunia terpecah menjadi dua, yakni pihak yang "menang"
dan pihak yang "kalah" sehingga ada kesenjangan antarnegara. Ini menyebabkan
negara-negara yang ada di barisan belakang terjerat utang luar negeri, korupsi, serta
lemah dalam kontrol regulasi terhadap korporasi yang punya rekam jejak buruk dalam
hal lingkungan. Akhirnya, globalisasi bukan hanya menyebabkan timbulnya dusun
dunia tapi juga perampasan dunia.

            Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat, terutama di
kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda begitu kuat. Pengaruh
globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri
sebagai bangsa Indonesia. hal ini di tunjukan dengan gejala-gejala yang muncul dalam
kehidupan sehari-hari anak muda sekarang. Dari cara berpakaian, banyak renaja-remaja
kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat, Tidak banya
remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan
sesuai dengan kepribadian bangsa.

            Teknologi internet merupakan teknologi yang memberika informasi tanpa batas
dan dapat di akses oleh siapa saja.apa lagi untuk anak muda internet sudah menjadi
santapan mereka sehari-hari. jika di gunakan dengan baik, tentu kita memperoleh
manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Rasa sosial
terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih sibuk menggunakan
hanphone. Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal
sopan santun dan cenderung cuek dan tidak ada rasa peduli terhadap lingkingan.
Contoh, adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang
mengganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat. Moral generasi bangsa menjadi
rusak dan timbul tindakan anarkis antara golongan muda.

            Untuk itu anak-anak muda sekarang diberi kesadaran agar menumbuhkan rasa
nasionalisme untuk mencintai produk dalam negri. karena tidak hanya produk luar saja
yang berkualitas, tetapi produk lokal indonesia juga mempunyai  kualitas yang baik.
Untuk itu adanya kesadaran mental kita agar cinta akan produk indonesia, hasil yang
diperoleh dalam pembuatan produk khas serta mempunyai ciri yang bagus akan disukai
oleh semua kalangan contoh: batik batik sekarang sudah memasyarakat sampai kaum
muda sudah menyukai batik dan batik juga telah mendunia. Maka dari itu sudah bisa
dilihat produk indonesia dengan negara lainpun bisa bersaing dan banyak untuk
berminat dalam produk tersebut.

                        Anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa
Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat. Masalahnya anak
muda sangat konsumtif dengan macam-macam hal seperti gaya berbusana, padahal gaya
berbusana orang barat condong berbeda dengan gaya berbusana orang timur, memang
anak-anak jaman sekarang melihat semua itu adalah gaya. Tetapi pada satu titik ada hal
yang harus dilihat buruk dan baiknya, anak muda indonesia juga ingin semua hal yang
ada itu secara praktis padahal hal yang instan tidaklah baik, pada hakikatnya manusia itu
harus bekerja serta berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa bersaing
dengan negara lain serta tidak menjadi orang yang konsumtif dengan barang-barang
bukan hasil produk lokal sendiri.

            Tidak ada yang menyangkal jika spirit nasionalisme pemuda era reformasi kian
memudar. Tentu, di sini penulis merasa tidak perlu mengurai apa penyebabnya. Sudah
bukan jamannya lagi mencari kambing hitam, saatnya kita membunuh kambing hitam
dengan mencari solusi dan pemecahannya guna mengharu-birukan kembali semangat
nasionalisme pemuda. Terang, yang dibutuhkan adalah olah gagasan, ide untuk berpikir
dan bergerak supaya spirit nasionalisme itu tumbuh. Spirit adalah mentalitas. Tak dapat
dipungkiri membangun mentalitas nasionalisme itu tidak mudah. Perlu usaha keras dan
kerja cerdas. Mentalitas adalah barang mahal yang tak gampang diperoleh. Sementara
mentalitas ini adalah akar dari gerakan nasionalisme. Hal ini sangat fundamental. Di
samping sistem tentu spirit dan rasa nasionalisme yang membangun mentalitas ini akan
menentukan action kita di lapangan.

            Dalam aspek perekonomian Negara, dengan memudarnya rasa nasionalisme
pada generasi muda Indonesia mengakibatkan perekonomian bangsa Indonesia jauh
tertinggal dari Negara-negara tetangga. Saat ini masyarakat hanya memikirkan apa yang
Negara berikan untuk mereka, bukan memikirkan apa yang mereka dapat berikan pada
Negara. Dengan keegoisan inilah, masyarakat lebih menuntut hak dari pada
kewajibannya sebagai warga Negara. Sikap individual yang lebih mementingkan diri
sendiri dan hanya memperkaya diri sendiri tanpa memberikan retribusi pada Negara,
mengakibatkan perekonomian Negara semakin lemah.

            Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu
menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap
bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa. Namun, nasionalisme
harus dibentuk dan dibangun secara manifestasi melalui berbagai  teori dan praktek
sehingga mampu menghasilkan sebuah paradigma dan realita. Dalam membangun ide
nasionalisme secara utuh memerlukan pemahaman dan organisasi berbasis gerakan
untuk bertransaksi secara sosial dengan masyarakat, sehingga pada akhirnya terjadi
interaksi kuat antara organisasi dan massa dalam satu ide, yaitu nasionalisme.